Ida ma, dengganna i dohot sonangnai, molo tung pungu sahundulan angka na marhahamaranggi! Psalm 133,1b

Pungu sahundulan, bagi orang Batak juga dianggap sama susahnya dengan menghadirkan damai. Ada pepatah Patampak-tampak hundul, pulik-pulik pandohan. Bisa saja makan, dan duduk bersama tetapi saling menusuk dari belakang. Ada anekdot, orang Batak ikut dalam suatu organisasi, sarikat marganya supaya ia punya teman duduk dalam adat saja.

Sepanjang pengalaman manusia ternyata banyak yang kesulitan untuk menghadirkan persaudaraan dan kasih yang benar sebagai saudara. Ini misalnya dipicu oleh kecemburuan, iri hati dan keinginan yang tidak baik misalnya mengatasi saudaranya, apalagi bicara tentang warisan, harta gono gini, dlsb.

Orang Israel juga mengalami degradasi dalam menghadirkan keindahan sebagai saudara, abang kakak dan adik dalam suatu rumah tangga. Si kakak sering cemburu jika menganggap orang tuanya lebih peduli pada sang adik, misalnya dalam perumpamaan Tuhan Yesus tentang Anak Yang Hilang (Luk. 15). Ia menjadi iri hati, masakan dia yang sudah mencemarkan nama baik, menghabiskan harta bagiannya untu berfoya-foya kemudian disambut dengan tari-tarian dan pesta. Sikap ini tentu berasal dari perasaan lebih banyak berkorban, dan sebagai yang paling tua.

Pemazmur menyadari ini, dan mengingatkan betapa perlu dan indahnya duduk diam sebagai saudara. Duduk bersama berarti lebih jauh sebagai diam dalam damai, sehati dan sefikiran dalam merencanakan dan melakukan pekerjaannya. Itulah keindahan dan ketenangan sebagai saudara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s