Kuliah Umum Pembukaan Semester Ganjil 2008 STT HKBP Pematangsiantar : Diagnosis dan Prognosis dalam Kotbah

Kuliah Umum Pembukaan Semester Ganjil 2008
Mhs Reguler dan Pasca Sarjana
Civitas Akademi STT HKBP Pematangsiantar
Jl sang Nawaluh # 6 Pematangsiantar
Aula STT HKBP Pematangsiantar, Senin 11 Agustus 2008
Pukul 10.30am

Diagnosis dan Prognosis dalam Kotbah
disampaikan oleh Pdt Dr Arencius Munthe, Ephorus Emeritus GKPS (Gereja Kristen Batak Simalungun)
Ada perbedaan terjemahan dalam Mat 6, 32-3 dan Mat 28,19. keduanya sama-sama menyalin kata “Pante Ta Etne“, namun terjemahannya dalam nas pertama diterjemahkan menjadi kafir, sipelebegu dan benar-benar orang diluar lingkungan orang Yahudi pada saat itu. sedangkan dalam nas kedua, terjemahannya menjadi berbeda dengan pemakaian yang sering kita lakukan “Pergilah.. kepada semua bangsa” dan bukan kepada kafir. Disini ada perbedaan dalam penyampaian dan pengkotakkotakan dalam pemberaitaan dan pendengar firman itu.
karena itu apa yang disampaikan Dr Munthe dalam kesempatan itu sangat berharga dengan “diagnosis” dan “prognosis” dan mempersiapkan dan menyampaikan kotbah dalam gereja-gereja kita sekarang.
Misalnya dalam mengotbahkan perumpamaan Tuhan Yesus. cerita-cerita dalam perumpamaan itu tentu ada yang dapt diallegorikan, tapi ada banyak hal yang tidak semudah itu dialegorikan pada gambaran kita sekarang. Ada satu buku karangan dr A munthe yaitu “kabar baik dalam Perumpamaan Yesus” BPK GM Jkt. dan saya sudah mengomentarinya dengan “Usaha Memaknai Secara Utuh Perumpamaan Tuhan Yesus”, dalam Sp Imm 2001.
Dalam pada itu bahaya yang diperdengarkan gereja kini adalah tidak lagi mempersiapkan kotbah, renungan sebagai solusi atau obat (prognosis) dalam masa penyembuhan rohani. digambarkannya, betapa bnanyak ahli konseling kita pada zaman ini dapat membuat orang menangis tersedusedu, namun cukup hingga disitu karena ternaytat tidak ada solusi yang daopat dikemukakan. jadi Firman menurut beliau, harus secara utuh disampaikan dalam pemberitaan sebagai hardikan, bantahan dan belas kasihan Allah kepada seluruh umat.

Pada bagian akhir Dr Munthe menyumbangkan sebuah buku “Easy To Bible” sebuah terjemahan kontemporer yang back to basic dan benar-benar berbeda terjemahannya dengan Alkitab terutama Perjanjian Baru yang kita kenal sekarang terjemahan LAI. jadi terjemahan ini sangat membantu dan menguatkan kita, komentar Dr JR Hutauruk, Ephorus Emeritus HKBP; demikian juga Dirjen Bimas Kristen Dr Jason Lase yang menyambut baik terbitnya terjemahan Perjanjian Baru itu.

Dr Munthe kini tinggal di Medan dan sedang terus dalam proyek mempersiapkan terjemahan Alkitab dalam Bahasa Indonesia yang sudah selesai dan akan diterbitkan segera setelah edisi Perjanjian Lama already dikerjakan.
Anaknya, Pdt Ulrich Munthe sekarang sedang menyelesaikan disertasi di TTC Singapura.

Selengkapnya : Makalah “Diagnosis & Prognosis Dalam Kotbah”

Resensi Buku :
Usaha Memaknai Secara Utuh Perumpamaan Tuhan Yesus

Judul : Kabar Baik Dalam Perumpamaan Tuhan Yesus
Penulis : Pdt. A. Munthe
Penerbit : BPK-Gunung Mulia
Cetakan/Tahun : I, 2000
Tebal : viii + 95 (halaman)
Harga : Rp. 10.000

Perumpamaan ? Mengapa tidak, ya. Tuhan Yesus seringkali memakai perumpamaan sebagai salah satu cara untuk menyampaikan pesan-Nya tentang kebenaran dan kerajaan Allah.
Pemakaian Perumpamaan (Ibrani : masyal; dan Yunani : parabole) dalam Perjanjian Baru bukanlah hal baru dalam Alkitab. Perjanjian Lama juga memuat banyak bentuk perumpamaan yang dipakai para nabi dan rabbi (misalnya 2 Sam. 12:14). Yesus sendiri secara tegas menjawab pertanyaan para murid mengapa Ia selalu berkata-kata dalam perumpamaan (Mat. 13:10-13). Melalui perumpamaan Yesus seolah menarik garis pemisah antara orang-orang yang mau mengetahui makna kerajaan Allah yang diberitakan-Nya dengan orang yang “punya mata tetapi tidak melihat, punya telinga tapi tidak mendengar“, apalagi untuk mengertinya.
Oleh Munthe, hal tersebut dapat dianalogikan dengan pemakaian “umpama”, kiasan atau teka-teki oleh pemuda Batak yang ingin martandang kepada gadisnya. Demikian pula dalam pelaksanaan adat, umpama memainkan peranan yang tidak kecil. Perumpamaan Yesus tidak mengecilkan muatan atau pesan yang dibawanya, sebab perumpamaan itu sendiri adalah an sich sebagai alat, atau wahana (hlm. 2).
Buku teks yang cenderung menjadi acuan kotbah/renungan ini mengemukakan kurang lebih 21 aspek dari main theme kerajaan Allah. Aspek-aspek tematis yang ditulis Munthe ini, diawali dengan semacam judul kecil sebagai pendahuluan, dan masuk ke dalam batang tubuh perumpamaan tersebut hal mana diikuti dengan penjelasan lebih “rinci”. Sebagian besar dalam penjelasannya, terdapat kesan aplikatif dan representatif.
Lihat saja bagaimana penulis berusaha mengungkap perumpamaan Yesus dalam Mark. 4:1-9, perumpamaan best seller tentang seorang penabur (hlm. 14-18). Mungkin orang sudah sering mendengar bagian ini, bahkan terlalu sering (sampai-sampai hafal lagunya) sehingga seringkali lupa akan makna sebenarnya. Melalui penjelasannya, Munthe memberi muatan perumpamaan tersebut bahwa Pekabaran Injil (PI) melalui “benih-benih” yang telah ditaburkan akan terus hidup dan berkembang sebagaimana ungkapan Nommensen, rasul orang Batak itu, “PI (disini) pantang mundur“.
Dengan pembahasan yang populer dan sesekali pemakaian bahasa daerah (Batak) membantu mempermudah sidang pembaca lebih memahami makna perumpamaan Yesus. Dengan mendemonstrasikan bentuk tafsiran yang lebih mendalam, tampaknya penulis cenderung menujukan buku ini kepada para pembaca awam, tapi juga memberi sumbangan besar bagi para pengerja gereja dalam mengkomunikasikan kabar baik dari Injil, istimewa pada para pelajar teologia.
Pembahasan dalam 21 bagian tematis, seolah memberi time out kepada para pembaca untuk memaknai satu perumpamaan saat mata lelah, serta memudahkan mencernanya. Sisi lain yang ingin diketengahkan oleh penulis adalah sikap kehati-hatian terhadap metode penafsiran terhadap perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus.
“Penafsiran alegoris” pada sebagian besar perumpamaan harus dihindari agar kita tidak terjebak dalamnya. Misalnya dalam perumpamaan tentang seorang tuan yang menyewakan kebun anggurnya (Mat 21:33-34; bnd Mat 12:1-2, Luk 20:9-19) (hlm. 90-93).
Perumpamaan ini menggambarkan seorang tuan yang menanam modal untuk kebunnya, dan apabila ia telah selesai ia menyewakannya kepada para investor, itulah gambaran Allah Bapa. Sedang para “hamba” yang lalu dipermalukan dan dibunuh adalah para utusan-Nya, yaitu para nabi, rasul dan pemberita Injil. Maka anak si-tuan tanah adalah Yesus Kristus, sang “pewaris tunggal” atas kebun tersebut. Tapi ternyata Ia dibunuh juga. Maka siapakah para penyewa-penyewa yang jahat itu? Tentu seturut dengan jiwa alegoris orang akan menjawabnya sesuai dengan keadaan dan saat mana mereka hidup, itulah para penghalang untuk mempersulit pekabaran Injil.
Lalu bagaimana dengan karakter-karakter lain ? Dari semua nas pilihan penulis agaknya berpegang pads prinsip otentisitas penulisan Injil-Injil (hal mana umum bagi para pelajar teologia, bahwa Injil tertua berturut-turut : Markus, Matius dan Lukas). Kesan pemilihan tersebut tentulah berdasar pada latar belakang, konteks dan muatannya, sebagaimana diakui penulis.
Ada banyak segi lain dari perumpamaan Yesus, yaitu fitur-fitur yang merangkai tubuh perumpamaan itu sendiri. Lagi pula satu nas dimana perumpamaan tersebut ada, terdapat kerangka perikopis. Penafsiran yang terlepas dari segi-segi ini akan memburamkan makna yang dikandungnya, dan dengan melupakannya orang akan terjebak dalam bahaya penafsiran yang simplisitas. Hal ini berdasar, begini, warna dan isi perumpamaan Yesus terangkat dari lingkungan sosial dan kultur dimana Ia hidup. Ia beranjak dari hal-hal yang biasa dan umum bagi para pendengarnya. Ia mengesankan, membuat orang terhenyak, terkejut tidak menyangka sampai akhimya tersenyum manggut-manggut mengerti (bnd. hlm. 3). Bukankah perumpamaan disuarakan Yesus seharusnya agar orang lebih mudah mengerti pesan-Nya, bukannya malah membuat bingung.
Bagaimana pun, karangan Magister Theologia lulusan Univ. Hamburg in memberi sumbangan tak terkira bagi sidang pembacanya. Bukan saja perhatian khusus terhadap metode penafsiran atas perumpamaan dan Tuhan Yesus (yang masih langka literaturnya), juga mengingatkan kita akan kabar baik yang terbungkus dalamnya. Perumpaan menjadi “metode komunikasi” Injil, sekaligus untuk memberdayakan umpama yang ada dalam kehidupan masyarakat Batak.

Bakti J Situmorang, Panei Tonga 23 Januari 2001

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s