SCRAP KOTBAH TANGGAL 20 Juli 2008, Ayub 2, 9-13 : MANIS ATAU PAHIT DAHULU?

Ada pepatah yang mengatakan “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian”; bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Mungkin pepatah ini didramatisir oleh sebagian menggambarkan bahwa hidup adalah perjuangan. Perjuangan diperlukan untuk mencapai suatu kebahagian, posisi atau atau pun juga dalam kehidupan kita kini. No gain without pain. Jadi, berusaha dengan sebaik mungkin akai segala kesempatan dan banting tulang agar hidupmu nantinya enak.
Jadi romantisme yang mengatakan agar hidup adalah sebaiknya sama seperti makan tebu mulai dari yang tidak manis, bahkan hambar, agak manis dan akhirnya menjadi manis. Tapi jika membayangkan hidup yang adalah perbandingan dengan yang lain mungkin kita akan merasa tidak mendapatkan apa yang menjadi upah atas kerja keras kita.
Jaman kita adalah jaman yang sulit. Harga barang melambung, tarif angkutan dan biaya hidup mencekik kita, sehingga membuat kita sulit bernafas. Semuanya kelihatan pahit dan hitam.
Sama seperti keadaan yang datang kepada Ayub, hartanya habis oleh bencana, kekayaannya ludes dalam sekejab; anak-anaknya mati. Bahkan kini dia harus duduk di jelaga karena sakit borok yang sangat parah dan dianggap sebagai kutuk terparah.
Namun dalam semuanya itu Ayub punya pengharapan, punya komitmen dan integritas dalam dirinya. Itu tampak dalam perkataan Ayub kepada istrinya, “Kita sudah menerima yang manis dari TUHAN, tidak patutkah kita menerima yang pahit dari-NYA?” (2,10). Jadi akal sehat kita diputarbalikkan dengan fakta bahwa Ayub sebagai hamba Allah sudah menerima dulu apa yang manis, baik, indah, sejahtera, dlsb. Daripada apa yang sebagian lagi menganggapnya sebagai yang pahit.
Justru jika kita tidak mengecap apa yang pahit kita tidak akan pernah mengetahui yang rasanya manis. Dengan mengalami sakit, kita dapat mengatakan bahwa sesuatu itu enak, nikmat, lezat.
Sama seperti sebuah kenyataan iman, dengan mengalami sakit, penderitaan, cercaan dlsb maka dengan demikian TUHAN meneguhkan kita dalam iman.
Lagi pula apa yang Ayub katakan adalah persfektif seorang yang memandang dengan kacamata kepercayaan dan pengharapan kepada TUHAN bahwa segala yang dia terima dan alami, semuanya, adalah berasal dari TUHAN saja; semuanya menjadi rencana TUHAN yang indah baginya (bnd. Yer.29, 11). Dia-lah yang memberikan, Dia pulalah yang mengambil, terpujilah TUHAN. Dengan demikian semuanya adalah rencana TUHAN, jadi kini terserah Anda, manis atau pahitkah??
Dengan pengharapan dan iman maka kita akan memandang segala sesuatu, bahkan yang sakit, hina memalukan sekalipun bagi dunia ini adalah “manis” dan “indah” dari TUHAN. Manis atau pahit duluan, semuanya adalah rencana TUHAN, dan memandang bahwa Dia memberikan segala sesuatu indah pada waktunya (Pkh. 3,11).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s