Natal & Tahun Baru HKBP Distrik V Sumatera Timur

Perayaan Natal dan Syukuran Tahun Baru Pelayan HKBP Distrik V Sum Timur
Rabu, 23 Januari 2008, Sopo Godang NHKBP Pematangsiantar

Catatan Otokritik Peserta Syukur Tahun Baru 2008
Natal dan Syukuran Tahun Baru para pelayan HKBP Distrik V Sum Timur berlangsung di Gedung Sopo Godang NHKBP Pematangsiantar Jl Gereja Pematangsiantar. Acara ini dihadiri oleh pimpinan HKBP KaDept. Marturia HKBP Pdr MH Sihite, STh, Praesses HKBP Distrik V Sum Timur Pdt Dr P Simanjuntak, Para Pelayan HKBP di Distrik V Sum Timur dan ratusan Undangan dari Pemerintahan, Kepolisian Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun.
Acara ibadah diawali dengan puji-pujian dari Punguan Ina Koinonia HKBP Pematangsiantar, yang kemudian dalam acara ibadah mempersembahkan tiga koor. Acara ibadah sendiri dipandu liturgist Pdt Sondang Napitupulu, dan renungan disampaikan oleh KaDept Marturia HKBP Pdt MH Sihite.
Dalam acara kebaktian yang adalah perayaan Natal dan Tahun Baru ada beberapa orang yang mempersembahkan refleksi mewakili tohonannya. St PH Simaremare mewakili para sintua (penatua) menggambarkan bahwa ciptaan Allah sempurna adanya dan tugas-tugas gerejawi pada masa kini oleh gereja termasuk para pelayannya adalah melestarikan keutuhan ciptaan itu. Misalnya dengan pemberdayaan pargodungan gereja, pemanfaatan lingkungan hidup dan ajakan untuk melakukan tugas marturia.
Dari kaum Diakones, diwakili oleh Diak D Br Simanjuntak. Dia bilang secara klise bahwa perbuatan lebih keras suaranya daripada kotbah-kotbah untuk menggambarkan perkataan dalam kesaksian kita. Demikian juga kurang lebih yang disampaikan oleh perwakilan para guru huria HKBP Gr P Sarumpaet. Ajakan natal-nya agar menghargai dan menerima natal memang – baiklah bagi saya!! – memang klise. Lagi pula natal sudah kita lakukan sebulan yang lalu, refleksi itu tidak reflektif. Hanya saja kesannya menggurui (mungkin karena penyampainya adalah guru huria pula). Satu lagi kesalahan dalam sebuah show ternyata bukan pada nyanyiannya tapi lebih pada siapa penyanyinya, bukan !? Ini terlihat saat Pdt Roulina Br Siagian menyampaikan refleksi mewakili kalangan Pendeta HKBP. Katanya, mengutip Jujun Suriasumantri dalam Filsafat Ilmu-nya bahwa sehubungan dengan tugas marturia ada orang yang tidur karena memang terlelap dan ini perlu dibangunkan. Tugas itu adalah menyadarkan orang yang tidak tahu di tidaktahunya itu dan kemudian menjadikannya sebagai orang yang berjaga terus dan sedia selalu. Ada pula orang yang memang tidak sadar bahwa dia tidak tahu di ketidaktahuannya, ini “anak-anak”, dengan demikian tugas marturia adalah ajarilah dia. Dan kepada orang yang tahu dan sadar, bangun, inilah orang bijaksana. Ikutlah dia !?
Satu hal – kalau bukan satu-satunya – yang cukup menghibur sepanjang ibadah yang panjang dan membosankan itu adalah ada setidaknya empat nyanyian Buku Ende yang dinyanyikan dengan gaya kontemporer dan semua orang menghentakkan kaki, tangan dan kepalanya mengikuti irama nyanyian itu.
Dalam kotbahnya, Pdt Sihite mengatakan dari tema Tahun Marturia 2008, yaitu Yoh 15,16 seolah-olah ada sesuatu yang Tuhan ingin perbaiki dan sembuhkan dari diri kita. Bukan kamu yang memilih Aku,.. Bukan kamu yang memikirkan Aku, .. Bukan kamu yang memperhatikan dan menghidupi Aku, tetapi …. Dia-lah yang memilih kita, yang membantu kita, yang menguatkan kita supaya pergi, berbuat serta berbuah sebagai pelayannya.
Jika manusia selalu berusaha memilih dari antaranya orang-orang yang paling besar, paling baik, paling besar, dlsb (marhasurungan); dan untuk terpilih orang bersedia melakukan apa saja, supaya dikenal, dikagumi dan akhirnya memilihnya. Itu wajar, dan itu baik bagi manusia. Tetapi Allah memilih kita, Anda dan saya, yang tidak berguna, bukan yang paling baik, untuk menjadi pelayan-Nya dan menghasilkan buah yang berharga. Angka na so hasea do dipillit Ibana, asa marparbuehon angka na arga. Tidak cukup begitu saja, Tuhan juga memperlengkapi kita agar kita mampu dengan tidak mengandalkan fikiran, daya dan kekayaan bekerja di ladang Tuhan. Ia memberi kuasa melalui Roh Kudus kepada pelayan-Nya supaya mereka dimampukan berkarya untuk-Nya. Hal ini pula menjadi jaminan bahwa dengan mengandalkan Tuhan dalam pekerjaan kita, Ia menjadi sumber hidup (bona ni hangoluan; istilah mana berulang-ulang disebutkan pengkotbah ini).
Satu hal yang tidak ditempatnya, adalah saat ia berbicara tentang pelean II atau na marboho. Sdr. tahu kan,? Jika saja dia tidak memulainya dengan santabi, atau maaf untuk membicarakan pelean/ persembahan ke kantor pusat dari huria-huria, saya tidak akan terganggu. Apa beratnya bicara tentang uang di kotbah, tokh saya setia kepada firman Allah. Dengan “maaf” atau “santabi” atau apa saja, itu menggambarkan ada udang dibalik bakwan haha… pantas saja warga gereja selalu menggerutu jika pengkotbah mulai berbicara tentang uang, persembahan, ekonomi, perkoperasian, dlsb. Atau seperti anekdot, UUD : Ujung-ujungnya (pasti) duit. Bukankah tidak lebih bagus untuk berterus terang tentang uang namun setia pada firman, daripada sembunyi-semmbunyi dan dengan lihai mengatasnamakan firman untuk sekadar meminta bantuan atau berdagang di etalase gereja. Huh.. Jika tuntutan firman memang tentang uang, setialah, begitulah – setidaknya menurut saya – kita setia dalam pemberitaan firman.
Acara ditutup dengan makan bersama, setelah diselingi dengan kata-kata sambutan. Dari panitia Pdt Mangantar Tambunan, yang secara simbolis – biar juga hanya kata-kata – menyerahkan bantuan ala kadar kepada pendeta na suda gogo (pensiun) di lingkungan distrik ini. Dari kepolisian Polres Simalungun dan Polresta Pematangsiantar, diwakili oleh Bapak Tampubolon. Beliau mengingatkan kita perlunya menjaga kerukunan dan ketertiban dalam masyarakat istimewa dalam 2008 kita memiliki dua agenda besar di provinsi ini. Yang pertama, PilGubsu; dan bulan september nanti ada Sinode Godang HKBP. Harapannya semoga kedua momen bersejarah itu dapat berjalan dengan tertib sesuai dengan harapan kita semua. Untunglah Ojak Naibaho sudah berjanji bahwa dia akan berbicara 1½ menit, dan sambutannya mewakili DPRD Kab dan Kota Pematangsiantar berakhir bahkan sebelum tenggat waktu itu. Juga ada perwakilan dari Pemerintahan Pemko Pematangsiantar dan juga Kab Simalungun yang memakai kesempatan itu memperkenalkan Walikota yang katanya ruas HKBP Pematangsiantar dan salah satu putra terbaik pula di daerah ini, hanya karena ingin menyodorkan dirinya menjadi balon Gubsu pada pilkada nanti. Pdt Dr Jamilin Sirait, berbicara dalam kapasitasnya sebagai KRP HKBP s/d. 2009. Tiga isu yang (di)besar-besarkannya adalah 1. Kemiskinan (dan kemelaratan) 2. Isu Global Warming (mungkin ini yang betul-betul besar) dan 3. Disentegrasi bangsa. Dan yang paling menarik dari beliau adalah masalah kedelai, karena itu yang paling mendarat di ranah pemikiran peserta Syukuran Tahun Baru itu. Agak terbata-bata Dr Ulrich Beyer mewakili Gereja/ Lembaga Gereja tetangga juga ikut mengucapkan selamat. Katanya, sebenarnya dia agak terkejut menghadiri perayaan hari itu, sebabnya natal sudah menjadi produk yang dikeluarkan kl. sebulan yang lalu, tapi disini orang masih merayakan natal, padahal sebentar lagi orang akan mengadapi pesta Paskah. Haha.. Namun secara teologis memang, baginya, Boan sadanai save one more bukan berarti bahwa tindakan penyelamatan itu adalah tindakan kita. Sebagaimana pun besarnya jasa, usaha dan upaya kita membawa jiwa-jiwa Yesus Kristus-lah yang menyelamatkannya; jadi bukan karena usaha dan pekerjaan Anda dan saya, katanya. Dikisahkannya, pernah satu waktu dia singgah di sebuah lepau makan seorang diri. Sedih katanya, sendirian tanpa istrinya. Saat dia sendirian, datanglah juga seorang ibu sendirian juga. Dan sambil menunggu makanannya dia memperhatikan orang-orang dan meja sekelilingnya. Hingga makanannya datang, Beyer memperhatikannya. Dan ibu itu berdoa, ia berdoa di kedai itu. Beyer sendiri menurut pengakuannya tidak pernah melihat orang berdoa sebelum makan di lepau itu. Baru kali ini dia melihat ada orang yang berdoa di kedai saat akan makan. Di negerinya sendiri, ia akui tidak banyak orang berdoa sebelum atau sesudah makan. Luar biasa, sehingga dia berdiri dan menghampiri si ibu untuk menyalamnya dan kelihatannya si ibu berseri-seri dengan sedikit pujiannya. Entah apa moral cerita itu, mungkin hanya makan ditempat umum, di bus, di jalanan, tapi mungkin yang paling penting tindakan nyata sangat diperlukan untuk menjadi saksi Kristus. Jadi bukan hanya kata-kata belaka.
Akhirnya tibalah makan dengan hiburan nyanyian dari Pdt Juares Pardede, ternyata bisa juga dia jadi artis dadakan selain berkotbah ya. Yah, lumayanlah, dari pada tidak ada pengisi kegiatan. Tapi ternyata ada dua ibu Boru Pasaribu, yaitu para Punguan Ina HKBP, Ny Sirait dan Ny Panggabean. Duo mereka pantas diacungi jempol, mungkin karena penyanyi ya waktu masih muda. Kini saya kenal mereka dua-duanya dirigent pada Koor Ina HKBP Pematangsiantar dan HKBP Dame.
Karena tema pertemuan itu adalah launching logo Tahun Marturia yang lebih mirip banteng PDIP atau solu/ sampan, yang diatasnya ada dua orang, yang satu kulit putih dan satunya lagi negro. Mungkin untuk menggambarkan orang yang menolong dan yang ditolong dalam lingkup tulisan TAHUN MARTURIA HKBP 2008. Mungkin tugas ini dikerjakan hanya dalam lingkup dan cakrawala HKBP. Tapi mungkin salah karena ternyata gambarannya berbeda, dan mungkin ada banyak komentar orang untuk membawa pulang satu lagi bungkusan nasi kotak dari RM. Garuda itu. Boan Sada nai atau Boan Sadanai. Yah, Boan Sada na i. Selamat Tahun Baru 2008.

image08.jpg

6 comments

  1. syaloom,

    punya teks drama natal keluarga ga ya…klo bisa yang benar2 menyentuh hati, sedih, sadis, and berakhir dgn sukacita yg mendalam.Thx

    Maya

    1. Menurut saya disesuaikan dengan semangat diakonia Tuhan kepada anak-anak
      merangkul, berlutut dan memberkati mereka Mark 10;🙂 bagaimana?

  2. Syaloom….salam kenal…..blh saya tahu tema natal HKBP untuk tahun 2009????karna kebetulan sy sie acara pd natal NHKBP jayapura, dan kami mash kesulitan mencari tema natal yang sesuai dengan agenda HKBP….

    Mauliate..Horas

    1. Horas ma tutu di NHKBP Jayapura,
      Temanya sesuai Agenda HKBP Mzm 9, 3; kaitannya dengan Tahun Diakonia HKBP adalah tugas rangkaian belas kasihan Allah kepada manusia yang mesti juga diamini dengan memberitakanya kepada sesama dalam perkataan dan aksi nyata. Menurut saya penekannya pada : tugas (peran) kita dalam menyampaikan sukacita itu.
      Selamat mempersiapkan Natal ..😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s