Kaget Pasar Kaget di Jl Sutomo Pematangsiantar

Di pasar kaget Jl Sutomo Pematangsiantar inilah berdiam seorang tua yang selalu menyanyikan “Widuri, elok bagai rembulan oh sayang… Widuri” tanpa iringan musik apapun. Dia tergilas oleh perubahan zaman dan kaget di pasar kagetperkembangan demi sesuap nasi. Suaranya pun tak lagi keluar, karena kelaparan dan kelihatannya dia sedang sakit. Ia mengemis dengan hanya mengandalkan suaranya yang tiada seberapa. Seolah hidup di zaman 60-an dia berusaha dengan bergerak ke sana kemari menirukan penyanyi yang dikenalnya pada eranya.
Sampai kami tiba di rumah pun, pasti dia sedang terus bernyanyi dan bernyanyi berusaha menghibur orang-orang yang silih berganti datang membawa rupiahnya dan dia tetap mengemis.
Bergantian dengan dia lihat pulalah, ada seorang anak kecil yang mungkin jika masih bersekolah masih sekolah (paling) dasar kelas tiga. Dia berusaha merambas gitar keroncongnya sekadar untuk mengiri dia menyanyikan sebuah lagu tentang tema keadilan yang mungkin dia sendiri tidak mengerti syair lagu itu. Tema itu terlalu naïf untuk dia; hanya untuk sekadar menyanyi dan mendapat belas kasihan dari orang-orang yang makan dan minum dengan sepuasnya di pasar kaget itu.
Apakah fenomena mengamen sebagai pekerjaan. Pekerjaankah mengamen?? Bukankah itu cenderung pada mengemis dan meminta belas kasihan untuk suara yang mereka paksakan??
Apakah kalau saya tidak memberikan uang parkir pada malam itu dia tidak akan makan??
Atau perhatikan jugalah mereka yang berjualan menutupi kawasan Jl Sutomo itu. Pernahkah mereka berhasil meminjam ke bank-bank konvensional untuk usaha mereka itu. Di belakang tenda-tenda mereka banyak bertebaran ATM dari bank-bank itu. Saya sempat mencatat ada BTPNi, yang dengan embel-embel “i” seolah menjadi lebih pribumi padahal semua orang tahu pasti stakeholdernya adalah Tionghoa. Atau Danamon dengan ATM disana; pernahkah mereka berhasil meminjam darinya untuk membiayai usaha keluarga mereka itu.
Kalau Sdr. singgah ke Pematangsiantar mampirlah dan merasakan pasar kaget di Jl Sutomo ini dan semua makanan jajanan mungkin ada disini. Mulai dari yang ringan sampai makanan berat ada disini. Mulai dari orang yang mampu dan pebisnis kelas berat sampai mereka yang mengemis dan mengais-ngais demi sesuap nasi dan demi bertahan hidup untuk dapat melalui malam ini dan melihat besok pagi matahari kembali bersinar dan kerja, kerja dan kerja.
Hanya untuk melewati malam ini dia berada disana. Tentang apa yang dikerjakan dan apa yang dimakan itulah yang dilakoni pada malam hari ini.**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s