Ibadah Tak Kontemplatif

ibadahtakontemplatif.jpgTadi kami beribadah lagi di satu gereja HKBP di Pematangsiantar. Sedari awal saya sudah merasakan ketidaknyamanan itu, karena lagilagi bergereja di gereja yang mapan.Mulai dari awal saat orang datang duduk dan bercakapcakap hingga bunyi giringgiring memecah keributan itu; orang tunduk dan berdoa dalam detik itu.Juga lakilaki yang ada disamping saya mulai dari duduk di samping saya – saya duluan duduk di bangku panjang itu – mulutnya komatkamit, saya kira dia sedang berdoa meminta pengampunan dosa.Acara demi acara saya ikuti saja dan tidak ikut menyanyi karena memang suara orgel gereja itu mengganggu saya tidak kontemplatif. Nadanya yang kadangkadang fals, fils dan tidak sesuai iramanya.Masakan waktu menyanyikan Buku Ende No 591, itu `kan temponya gembira kalau tidak andante. Ini koq malah kaya lagu melayat orang mati ya, tidak sesuai.Kemudian lagi koor sebagaimana paling umum di gereja mapan ini, punguan koor mengisi acara. Sebenarnya saya merasa bersyukur dengan kidung Ina Hanna huria itu. Namun tidak pada koorkoor selanjutnya; mereka hanya p4 puas pais patuduhon potongan saja. hmm, apa yang saya harus katakan : di acara yang berkoor adalah punguan ama dan ternyata yang ikut bernyanyi juga adalah kaum ibu. `Ku kira si dirigen melihat tidak memungkinkan lagi lagu itu dinyanyikan hanya oleh punguan ama sehingga demikianlah dipaksakannya juga nyanyian itu sebagai koor gemende.Dan koor ama itu dinyanyikan setelah pembacaan warta jemaat. Tentang warta jemaat sih saya tidak apaapa; tapi doa syafaat setelah warta jemaat itu yang sangat menggelikan.Masakan seorang penatua perempuan – kukira umurnya sudah 60-an – dan dia berdoa, berdoa untuk semua yang ia wartakan. Tahukah saudara, berapa kali dia mengucapkan kata “ale Tuhan”, “ale Tuhan,” dan “ale Tuhan”!! saya menghitungnya ada kl 66 kali perkataan itu diiukutsertakan sekali dia mengucapkan sepatah permohonan kepada Tuhan, pasti diakhiri dengan kata tadi. Wah dapat dibayangkan betapa membosankannya hal itu pada umat yang beribadah sampai orang sempat bermimpi.Yang paling ironis dan ini menjadi pusat ibadah itu : kotbah. Naiklah seorang tua yang merasa dirinya sudah cukup mapan dalam berkotbah dan menyampaikan firman.Sdr. tahu apa kotbahnya?? Kotbahnya menambah suasana tidak kontemplatif; dengan demikian sempurnalah ibadah yang tak kontemplatif itu.**Sdr. kan tahu kotbahnya tanggal 16 Desember 2007 adalah minggu Advent III dari Mat 3,1-12. dan dia menjabarkannya dengan akal dan perasaan dari wawasan pengalaman yang luas – meski saya akui ada beberapa hal yang baru – dia baru pindah sebagai guru huria gr hs gultom. Sekilas orang menganggapnya filsuf karena rambutnya disengaja panjang sehingga tergerai begitu saja.Guru huria yang merasa tua ini pun menggambarkan – dengan membosankan – betapa anak ular beludak, yaitu sebutan Yohanes Pembaptis kepada orang Yahudi dan Saduse (yang tidak atau lupa disinggung orang tua ini) gambaran dari pertobatan ular. Ular meskipun sisiknya selalu kelihatan bercahaya dan indah tampaknya karena baru saja ganti kulit tetapi tetap saja adalah ular yang memiliki bisa yang mematikan. Kulit luarnya saja yang berganti, tetapi tidak dengan karakter dan sifatnya.Atau cara lain digambarkannya dari pengalamannya – saya yakin karena dia rupanya tidak memiliki catatan – adalah bunglon atau kepompong (sipasing) kemudian menjadi rimbur, dan tidak bisa lagi kembali ke bentuk awalnya itu. Oh ya,  ini semua digambarkannya dengan generalisasi. Maksudnya, apa ya?? Ya memang – mungkin saya juga ikut ya?? – banyak pelayan HKBP adalah ahli generalisasi dalam kotbah dan penyampaian firman Allah, sehingga tidak ada penekanan pada tuntutan firman.**Demikianlah pertobatan itu digambarkannya dengan harapan umat pulang dalam pertobatan; padahal saya fikir orang tua inilah yang perlu bertobat dan memperbarui caranya berkotbah. Wah, orang tua ini oto ndang tarajaran, tapi malo ndang tarparguruhon. Artinya, belum tentu pengalaman cukup berarti tanpa implikasi dan praktek dalam kehidupan secara berulangulang.Maka pulanglah umatnya dengan tak kontemplatif bahkan tak menyalam dan menyapa teman sebangku juga apalagi… HKBP Dame Jl Asahan Minggu 16 Desember 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s