pemberdayaan sosial masyarakat indonesia – buku baru

Daftar isi

Daftar lsi v
Daftar Tabel
Sekapur Sirih v i i i
Pengantar xiv
Bab I
Pendahuluan 1
Bab l l
Teori-teori Pembangunan : Selayang Pandang 18
Bab l l l
Menanggulangi Kemiskinan dan Kesenjangan 31
Bab lV
Kemiskinan dan Kesenjangan Makin Diperhatikan 61
Bab V
Kebijakan Ekonomi Makro di Masa Krisis. . 78
Bab Vl
Program JPS di Masa Krisis 90
Bab Vll
Arah Pembangunan ke Depan : Suatu Saran 100
Daftar Pustaka 131
Indeks 139
Tentang Penulis 144

Sekapur Sirih
Tiada Letih Memperjuangkan Pemberdayaan Rakyat
A. Tony Prasetiantono
A. Tony Prasetiantono PhD adalah pengajar Fakultas Ekonomi universitas Gadjah Mada
dan Chief Economist Bank Negara Indonesia (BNl)

MAS Gun – demikian saya memanggil akrab Profesor Gunawan Sumoniningrat sejak menjadi murid beliau untuk mata kuliah Ekonomi Pembangunan dan Ekonometri di Fakultas Ekonomi UGM tahun 1982-1983 – tampaknya masih seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Begitu kesan saya seusai membaca buku terbarunya- yang tengah dihadapi
sidang pembaca ini. Apanya yang “masih seperti dulu”? Konsistensinya.
Mas Gun tampak sekali menempuh jalur yang tegas dalam bersikap sebagai seorang ilmuwan. Sekali menekuni suatu wilayah akademis besar, ia akan terus berada di situ, dalam segala cuaca, dalam keadaan susah maupun senang.
Memang demikianlah seharusnya scholarship seseorang. Seorang scholarship punya prinsip menekuni satu area secara intensif, mendalam, dan menjadikannya sebagai “napas sehari-hari” secara konsisten. Tidak mudah tergoda
untuk “ke sana-kemari” berpindah area. Mas Gun sudah berada di jalurnya yang sekarang, yakni jalur perjuangan
untuk memberdayakan masyarakat, sejak ia lulus S1 dari Fakultas Ekonomi UGM maupun sesudah lulus S2 dari
Thammasat University Bangkok dan S3 dari University of Minnesota, Minneapolis.
Seorang scholar bernama Gunawan Sumodiningrat tentu tidak lahir begitu saja menjadi sosok yang kita saksikan
sekarang. Ia harus meniti anak tangga demi anak tangga dalam suatu proses panjang. Dalam proses meniti ini, tidaklah sulit menyebut nama (alm.) Profesor Mubyarto sebagai tokoh sentral yang memberi inspirasi terbesar dalam proses menuju scholarship seorang Gunawan Sumodiningrat. Meski demikian, tentu saja Gunawan Sumodiningrat tidak lantas “memfotokopi” guru tercintanya. Mubyarto tidak mungkin diklon atau difotokopi menjadi Gunawan Sumodiningrat. Keduanya pasti (dan memang han”rs) berbeda. Persamaan paling utama kedua profesor ini, menurut
saya, terletak pada konsistensi dan ketekr-rraltnya dalam memperjuangkan pemberday aNr (empouerment) rakyat. Keduanya tampak sangat “asyik” alias “menilcnati” benar topik ini -sesuatu yang tidak dilakukan kolega lain di lingkungan Fakr-r1tas Ekonomi UGM. Topik bagaimana memberdayakan kaum papa merupakan trade mark Profesor Mubyarto dan Profesor Sumodiningrat selama ktrnrn waktu puluhan tahun. Bedanya, barangkali, adalah Profesor Sumodingrat memiliki lebih banyak kesempatan menekuni bidang ini melalui jalur birolcasi di pemerintahan; sedangkan Profesor Mubyarto lebih banyak menekuninya dari perguruan tinggi-meski sekali tempo pernah juga Profesor Mubyarto berkiprah di Bappenas pada era Ginandjar Kartasasmita. Dengan perbedaan pengalaman ini, saya berani menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara Profesor Mubyarto dan Profesor Sumodiningrat.
Profesor Mubyarto begitu intens dalam tataran ideologis dan wacana, sebagaimana diperlihatkannya ketika berlangsung polemik yang amat ingar-bingar tentang Sistem Ekonomi Pancasila pada 1981. Dalam sistem ini, sebagaimana diyakini Profesor Mubyarto, setiap individu akan menjalankan fungsi dan perilaku ekonominya berdasarkan stimuh. rs moral yang bernama Pancasila. Artinya, Pancasila akan memberi inspirasi setiap pelaku ekonomi Indonesia, sehingga kita tidak lagi menerima kenyataan getir terjadinya persaingan drxria usaha yang sebebas-bebasnya, sebagaimana paham free fight li’beralism yang cenderung membiarkan terjadinya suruiual of the fittest tanpa kompromi, atau menelan bulat-bulat pil pahit monopoli’ Pendelcrya, Sistem Ekonomi Pancasila mengenyahkan segala karakteristik negatif yang melekat pada label liberalisme; namun juga tak hendak menerima sosialisme semata-mata, terutama bagian perekonomian yang “serbanegara” (etatisme). Ibarat bandul pendulum jam, sistem ini akan berayun-ayun di antara dua ekstrem: liberalisme dan sosialisme. Sistem Ekonomi Pancasila hendak mencari koordinat yang merupakan ekuilibrium yang ideal dari ayunan bandul tersebut. Bagi para pengkritilaxya, idealisasi ini terlalu indah’ Masalahnya, a)runan bandul itu akan berhenti di koordinat mana? Ini tidak jelas. Para oposan juga menglcitik bahwa sistem ekonomi semacam itu (yang bukan ekstrem liberalisme namun juga bukan ekstrem sosialisme) hanya enak diwacanakan di meja-meja seminar, atau ditulis di media massa, namun akan menjadi “buta” ketika diimplementasikan.
Dengan kata lain, itu semua hanyalah utopia, tidak praktis, dan masih meraba-raba. Long toay to go’ Ketika polemik serr ini berdengung sepanjang 1981, Profesor Sumodiningrat sekeluarga (bersama istri dan putra semata wayangnya, Arnri-nama ini merupakan kependekan “Amerika dan Indonesia”) masih mengglgil di Minneapolis yang dingrn dan beku. Jadi, ketika perdebatan Sistem Ekonomi Pancasila ini tengah seru-serunya berlangsung di tanah air, Profesor Sumodiningrat tidak ikut ambil bagian. Beliau baru kembali ke tanah air tahun sesudahnya. Dengan latar belakang demikian, maka Profesor Sumodiningrat bisa saya klasifikasikan sebagai “bukan termasuk dalam barisan pendukung utama Sistem Ekonomi Pancasila”.
Yang waktu itu sempat terlihat cukup intens dalam diskursus ini adalah para kolega yang lebih senior di Fakultas Ekonomi UGM, antara lain Profesor Boediono (kini Menko Perekonomian), Profesor Ace Partadiredja (alm.), Profesor Dibyo Prabowo, Profesor Sulistyo (alm.), dan Profesor Sudarsono. Dari sederet nama ini, hanya Profesor Mubyarto 1-ang masih terus gigih menggulirkan wacana tersebut. Hingga menjelang akhir hayatnya pun, 2005, beiiau masih nemimpin Pusat Studi Ekonomi Pancasila UGM’ Lalu di mana posisi Frofesor Sumodiningrat? Ia kembali ke tanah air sesudah hiruk-pikuk itu berakhir’ Memang sesudah 1981 masih ada serpihan sisa-sisa polemik Ekonomi Pancasila. Secara sporadis Profesor Mubyarto masih meneruak dengan lanjutan gagasannya, namun gemanya tidak sedahsyat diskursrx tahun 1981.
Profesor Sumodiningrat kembali ke kampus sebagai doktor ekonomi pertanian yang masih muda belia, dan berasal aari sekolah yang prestisius di Amerika Serikat. Minatnya :erhadap ekonometri bisa saya tangkap dari antr’rsiasmenya. Saat mengajar mata kuliah ini. Maklumlah, ia adalah murid Profesor Mark Roszenweig yang terkenal itu. Namun, seiring berlalunya waktu, Profesor Sumodiningrat mulai menemukan arena yang tepat untuk dirinya. Ekonometri, betapapun canggihnya, adalah suatu alternattf tool of cmalysis, yang kebetulan memang fauorable dt kalangan ekonom, terutama sejak Lawrence Klein dari university of Pennsylvania, Philadelphia, memenangkan anugerah Nobel ekonomi pada awal dasawarsa 19?0-an. Namun persoalan perekonomian Indonesia yang konkret tentunya tidak cuma soal alat analisis. Masih banyak dimensi yang lain yang hams dictrahi perhatian.
Saya mulai melihat pergeseran itu dalam diri Profesor Sumodiningrat pada paruh kedua 1980-an, dari keasyikan
mengutak-atik mod.el ekonometri menuju ke persoalan yang lebih membumi, lebih groutded, yalmi kenyataan bahwa banyak rakyat kita yang masih miskin, tidak berdaya’ papa’ dan tidak punya akses untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan.Ini memang isu klasik, yang sudah diangkat para ahli ekonomi pembangunan seperti Ragnar Nurkse (1950-an)’ Arthur .Lewis (1960-an) hingga ekonom zaman sekarang seperti Michael Todaro dan Amarbya Sen’ Isu kemiskinan dan pemberdayaan kaum papa memang merupakan “lahan” yang senantiasa subur dan euergreen di negara-negara berkembang. Kita tidak akan pernah kehilangan bahan r.rntuk mengkaji kemiskinan. Dalam hal ini, yalcri ketika Profesor sumodiningrat berada di entry point kariernya, rasanya ada kemiripan dengan yang dialami Profesor Muhammad Yunus di Bangladesh. Profesor Yunus risau terhadap kemiskinan yang menikam bagian terbesar rakyat Bangladesh, sedangkan Profesor Sumodiningrat tercekat dengan kemiskinan di negerinya, meski kasus Indonesia tidaklah separah Bangladesh.
Profesor Yunus pun mengambil jalan sebagai praktisi dalam mengentaskan ralryat miskin melalui Grameen Bank
dan meninggalkan profesinya sebagai dosen di Universitas Chittagong, sedangkan Profesor Sumodiningrat memilih jalur birokrasi melalui Bappenas tanpa meninggalkan karier akaiemrsnya
di kampus.
Buku ini merupakan refleksi pengalaman Profesor Sumodiningrat, baik sebagai dosen dan peneliti mengenai kemiskinan, terutama ketika mendampingi gurunya, Profesor Mubyarto, hingga menjadi birolsat di Bappenas, Kantor
Wakil Presiden, dan sekarang di Departemen Sosial. Beragam skema untuk mengentaskan rakyat miskin sudah dilakukan, dan semuanya memiliki dinamika yang amat beragam. Kemiskinan adalah sebuah neuer ending story. Bahkan di ^\merika Serikat pr-rn tetap saja dapat ditemukan ketergantungan kemiskinan, sehingga Bill Clinton pemah antusias beiajar dari Muhammad Yunus untuk menerapkan program poverty alleuiation bagi negara bagian Arkansas. Kemiskinan masih akan menjadi “cerita bersambung”, entah sampai dapan. Yang penting kita tidak boleh pernah bosan, Ietih, dan penat untuk memeranginya. Rasanya tidak berlebihan jika saya katakan bahwa salah satu tokoh yang belum letih untuk nelalmkannya adalah Profesor Sumodiningrat. Mas Gun, selamat atas penerbitan buku ini. Teruslah cerjuang di jalur ini dengan tanpa mengenal letih, karena memang masih banyak rakyat kita yang perlu diberdayakan.
Jangan pernah berhenti dan jangan pernah berpikir bahwa icta sedang berada di terowongan gelap yang tidak ketahuan ujungnya. Ujungnya pasti ada, meski kita belum tahu di mana. #

Yogyakarta, 27 Juli 2007

Judul : Pemberdayaan Sosial : Kajian Ringkas Tentang Pembangunan Manusia Indonesia
Pengarang : Gunawan Sumodiningrat
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun : Agustus, 2007
Harga :Rp. 30.000,-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s