Sebuah Testamen – Eka Darmaputera


Sebuah Testamen

Eka Darmaputera
 

Entah mengapa tak tahu bagaimana, tiba-tiba saja saya mempunyai sebuah ide gila. Membuat sebuah TESTAMEN! Anda pasti maklum apa maksud saya; itu semacam pesan dari seseorang  yang telah almarhum. Testamen itu di dalam bayangan saya, tidak cuma satu jumlahnya. Tapi pasti, salah satunya adalah tentang DGI. Anda pasti maklum maksud saya : itu, Dewan Gereja-Gereja di Indonesia, Jalan Salemba Raya 10 Jakarta Pusat.
Sungguh mati, saya tidak menuduh anda. Saya sendirilah yang menyebut ide saya itu ide gila. Betapa tidak!, karena saya sadar betul, bahwa sebenamya cuma orang-orang penting jualah yang membuat testament. Dan bila benar bahwa “orang selalu cenderung menganggapnya”, — sedangkan- saya tidak bohong! — Saya secuilpun tak pernah menganggap diri penting atau agak penting sekalipun, maka sebenamyalah saya tidak termasuk ke dalam kategori orang yang berhak membuat sebuah testamen.
Sebuah testamen jangan-jangan bisa menimbulkan asosiasi yang salah. Yaitu, seolah-olah apapun yang saya pikirkan mengenai DGI, akan tetap saja merupakan harapan, juga setelah saya mati nanti – dan entah sampai kapan. Ini mernang belum tentu sesuai dengan kenyataan. Tetapi hanya boleh dikatakan dengan bisik-bisik dan off-the-record. Maklum saja, kita harus peka dan penuh tepa-selira, bukan?
Adalah mengenai isi testamen itu sendiri. Hanya orang gila sajalah di jaman ini yang ingin berenang melawan arus. Tambahan pula, bila arus itu arus yang deras. Ada sebuah Undang-Undang kebijaksanaan yang berkata, “Kebijaksanaan itu pantang menentang arus, maksimal ia berarti mengerem arus”. Melawan arus itu bukan saja sia-sia, Saudara, tetapi lebih dari itu: mengganggu stabilitas! Haram hukumannya!
Nah, mungkin begitu anda bertanya, bila saya telah menemukakan semua itu, mengapa pula saya mesti mengutarakan testamen saya. Alasan saya sederhana justru sebab saya telah meggemukakan semua itu, maka sekarang saya mesti menguraikan isi testamen saya. Bila tidak, tentu tak perlu semua pengantar di atas itu, tokh?
Lagi pula, bila anda sudah tahu bahwa yang anda baca ini adalah sebuah ide gila, maka anda tahu juga bagaimana harus bersikap. Tak perlu sakit hati. Tak perlu naik pitam. Paling-paling menghubungi rumah sakit jiwa. Mendaftarkan saya masuk ke Testamen saya itu, saya bayangkan akan berbunyi seperti di bawah ini. (Dengan catatan: demi situasi dan kondisi, bisa terjadi perubahan-perubahan redaksionil di sana-sini) :
Pertama, adalah impian saya, bahwa kantor DGI akan berkembang pesat, ke arah menjadi jauh lebih sederhana. Beaya pemeliharaannya murah Seratus persen ditanggung oleh gereja-gereja Untuk melawan udara panas ibu-kota, terpaksa mesti dicari tempat di pinggiran. Dan dengan jendela-jendela yang selalu terbuka Ini lebih alamiah dan menyehatkan dari pada AC.Mengapa sebuah kantor yang sederhana? Kesatu, ini adalah bentuk solidaritas yang paling prima. Ingat, tuiuhpuluh persen gereia-gereia kita ada di desa! Lalu kedua, wah, ini bisa merupakan seleksi alamiah yang paling murni ! : Cuma orang-orang idealis saja mau berkantor di sini.
Kedua, adalah impian saya, bahwa di kantor yang sederhana itu, berkantor pulalah sinode-sinode gereja-gereja anggota, atau perwakilannya. Tuiuannya? Agar setiap saat, gereja-gereja secara langsung dilibatlan dalam pengambilan-pengambilan keputusan oikoumenis. Komunikasi antar gereja selalu terjadi sehari-hari. Dengan begitu, banyak beaya untuk konsultasi bisa dihemat. Dan kantor DGI, benar-benar kantor bersama gereja-gereja.
Ini, bagi saya, jauh lebih efektip dai pada mengganti nama, mengganti stempel, dan menghabiskan lagu keesaan bersama.
Ketiga, adalah impian saya, bahwa di Sidang-Sidang Raya DGI tak akan lagi diperdebatkan mengenai “apakah itu keesaan” atau “mengapa harus esa”. Juga bukan bagaimana “memprogramkan keesaan”. Tetapi dengan rendah dan tulus hati sungguh-sungguh membuka diri untuk dikuasai oleh “Roh Keesaan”.Ini penting! Sebab bila tidak, Sidang-Sidang Raya DGI akan merupakan sidang-sidang yang paling “mendukakan Roh Kudus” (ini mengutip Paulus). Dan juga, agar kita tidak terlalu mengecewakan anak cucu kita.
Keempat, adalah impian saya, bahwa dalam siding-sidang raya itu akan ada kampanye-kampanye terbuka yang seru. Di mana dipertarungkan di sana gagasan-gagasan oikoumenis yang paling berani dan masuk akal. Yang dipilih menjadi anggota-anggota BPH, adalah mereka-mereka yang paling berani berada di tempat paling depan dalam usaha keesaan di Indonesia.
Kelima, adalah impian saya, bahwa akan terjadi sebuah arus-balik. Bukan arus di mana ada aliran putera-putera terbaik gereja-gereja di Indonesia ke Salemba Raya – tetapi arus di mana kader-kader oikumenis dari Salemba akan kembali ke gereja-gereja.
Apa salahnya, DGI di samping fungsinya sebagai badan eksekutif, iuga menjadi tempat pesemaian kader-kader oikoumenis. Disemaikan di , untuk setelah dianggap cukup kuat, dipindahkan untuk menjadi besar di tempat di mana ia harus bertumbuh dan berbuah : di gereja-gereja.Itulah semuanya. Gila, bukan?
Tapi jangan Anda cepat-cepat mencemooh ide orang gila. Paling tidak adalah orang gila yang paling konsekwen  menghayati apa yang diyakininya. Ia tidak takut berdiri sendirian di dalam pendiriannya. Adapun mengenai saya, entah saya termasuk golongan mana. Sebab keduanya – waras atau gila – sama sekali bukan pilihan yang mudah. Ini bagi saya. Entah bagi Anda. 

Dikutip dari Berita Oikumene – Oktober 1976; p.15.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s