eka darmaputera – bahana

Pesona Firman
Mengatasi Ketakutan

Jika kita menghubungkan Mazmur 31:1-6 dibandingkan dengan Mazmur 90, maka kita akan melihat hal yang menarik. Mazmur 90 berbicara tentang kemahabesaran, tentang kemahakekalan, tetapi juga tentang kemahadasyhatan Allah itu. Tetapi Mazmur 90 juga berbicara tentang kemahakecilan, tentang kemahafanaan, tentang kemahaterbatasan manusia.
Mari kita baca Mazmur 90:3-6 untuk membuktikan kontras itu: “Engkau mengembalikan manusia kepada debu dan berkata : “Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata : “Kembalilah, hai anak-anak manusia!” sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam. Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh, di waktu pagi berkembang dan bertumbuh, di waktu petang lisut dan layu.”
Coba kita lihat betapa kontrasnya kedua bagian Firman Tuhan itu. Betapa akbar, betapa agung, betapa mulianya Allah itu, tetapi betapa kecilnya, betapa sepelenya, betapa remehnya manusia, Anda dan saya, dihadapan Allah itu.
Di dalam Mazmur 31 hendak dikatakan, Allah yang begitu akbar, yang begitu agung, yang begitu besar itu, ternyata tidak membuat pernazmur ketakutan atau gemetar. Tetapi di dalam ayat yang kedua, pemazmur justru mengatakan, “Pada-Mu TUHAN aku berlindung.” Tuhan malah justru menjadi sumber untuk menghalau semua ketakutan. Ayat yang ketiga dari Mazmur 3 1 malah lebih hebat lagi. Dikatakan di situ bahwa Allah yang hebat, yang dahsyat, yang besar, yang akbar itu, diminta oleh pemazmur sebagai tempat perlindungan, sebagai kubu pertahanan. Katanya, “Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahananan untuk menyelamatkan aku!”
Mengapa pemazmur menggunakan Tuhan sebagai tempat perlindungan? Sebagai kubu pertahanan? Ini mengingatkan pada Sadam Husein, misalnya, yang konon waktu perang teluk meletus, bersama dengan istri dan anak-anak, pengawal-pengawalnya, tinggal di tempat perlindungan. Mereka tinggal di kubu pertahanan jauh di bawah tanah. Beberapa tingkat di bawah tanah, sehingga turun atau naik saja harus pakai lift. Lift-nya konon sampai ada dua. Kalau mau turun harus pakai lift yang satu. Sampai pada tingkat tertentu, di situ harus pindah ke lift yang lain untuk sampai ke lift yang paling bawah. Demikian juga untuk naik.
Tuhan adalah tempat perlindungan dan kubu pertahanan. Ini berarti pemazmur menggambarkan situasi dan kenyataan hidup manusia itu seolah-olah sebagai medan pertempuran. Suatu peperangan. Dan ditengah-tengah suasana medan peperangan dan pertempuran itu, “Tuhan adalah gunung batuku dan pertahananku.” (ayat 4). Peperangan boleh berlangsung dengan hebatnya. Musuh boleh melakukan penyerangan dan bombardemen ribuan kali, tetapi di tempat perlindungan itu, di kubu pertahanan itu, kita boleh merasa damai. Kita boleh merasa aman; Kita.boleh ‘tetap bertahan dan tidak menyerah.
Bagaimanapun juga peperangan itu menakutkan. Peperangan itu mengerikan. Itu berarti bahwa setiap saat sebenarnya kita terancam. Setiap saat musuh itu dapat datang menyerang. Tapi justru di situlah saya kira memang tepat untuk menggambarkan kenyataan hidup manusia itu, sebagai situasi peperangan.
Coba saya bertanya kepada Anda, Sidang Pembaca BAHANA, siapakah sebenarnya orangnya yang di dalam kehidupannya benar-benar selalu aman? Yang sungguh-sungguh merasa bebas dari perasaan terancam? Ada tidak?
Yang miskin merasa tidak aman. Merasa resah. Besok rnakan apa? Bulan depan mesti bayar kontrak rumah. Anak-anak mesti bayar sekolah. Tetapi sebenarnya, yang kaya lebih lagi merasa tidak aman. Merasa terancam. Coba lihat rumah-rumah orang kaya. Bukankah semakin kaya juga semakin tinggi temboknya. Itu pun belum cukup. Harus ditambah satpam. Harus ditambah sistem alarm. Kadang-kadang ditambah dengan kamera televisi.
Rakyat kecil sekarang ini merasa tidak aman. Terancam. Setiap saat tanahnya bisa digusur. Kalau berani protes, setiap saat dia bisa ditangkap. Dan dengan tuduhan yang seram-seram. Mengurus KTP saja sulitnya bukan main. Tetapi apa itu berarti orang-orang yang berkuasa lalu merasa aman. Sama sekali tidak. Disini makin berkuasa orang, makin terancam. Sekarang ini para pemimpin dunia merasa aman.
Pada waktu Ronald Reagan datang ke Bali dulu, tempat dia menginap harus diubah, dirombak, supaya mobil-nya yang antipeluru bisa tiba tepat di depan kamar dia menginap. Takut. Cemas. Gelisah.
Saya kira ini adalah satu-satunya jenis penyakit yang dapat dikatakan melanda seluruh umat manusia di seluruh dunia dan di segala zaman. Jikalau begitu mengapa manusia tidak berusaha melawan? Manusia berusaha melawannya dengan sekuat tenaga. Semua usaha kita dan kerja keras kita sebenarnya tujuannya sangat sederhana. Supaya kita memperoleh jaminan, ada kepastian, ada pegangan untuk paling tidak mengurangi ketakutan, kekuatiran, perasaan terancam itu. Tetapi mengapa tidak berhasil? Mengapa sering gagal? Jawabnya ada di dalam Kitab Mazmur ini. Kita gagal karena kita salah alamat. Kalau diibaratkan perasaan takut, kuatir dan sebagainya itu sebagai satu penyakit dan kita ini dokter, maka kita tidak bisa mendiagnose di mana sumber penyakit itu. Dan karena diagnosenya saja sudah salah, maka tentu saja pengobatan atau terapinya juga salah.
Saya ingin tanya kepada Anda, Sidang Pembaca BAHANA. Kalau Anda ditanya, apa sih lawannya takut itu? Berani, pasti. Tapi kata pemazmur, jawaban ini salah. Orang berani itu belum pasti tidak takut. Malah bukan tidak mungkin terjadi orang itu jadi berani justru saking takutnya.
Saya ingat almarhum Yap Thiam Hiem yang terkenal sebagai pemberani. Ketika ditanya, “Apa sih resepnya Pak Yap, sehingga Bapak begitu berani? Tidak mengenal takut.” Almarhum menjawab, “Jangan dikira saya tidak pernah merasa takut. Saya kelihatannya saja berani, tetapi sebenarnya di dalam hati ada takutnya juga”.
Menurut pemazmur, lawannya takut memang bukan berani. Lawannya penakut, kata pemazmur, adalah iman. Percava. Mari kita baca Mazmur 31: 14-15 : “Sebab aku mendengar banyak orang berbisik- bisik, — ada kegentaran dari segala pihak! — mereka bersama- sama bermufakat mencelakakan aku, rnereka bermaksud mencabut nyawaku. Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata : “Engkaulah Allahku!”
Di dalam ayat 14 pemazmur mengatakan atau berbicara tentang ketakutan, tentang bahaya yang mengepung, bahaya yang mengancam, musuh yang siap menyerang. Pemazmur takut. Tetapi dia menyerahkan ketakutannya kepada Tuhan. Dia percaya kepada Allahnya.
Percaya adalah jalan yang paling ampuh untuk melawan, untuk menghadapi, untuk mengatasi ketakutan. Sebab sumber ketakutan itu tidak ada diluar kita. Kadang-kadang di luar tidak ada apa-apa saja kita bisa merasa takut. Sumber ketakutan itu sebenarnya ada di dalam hati kita. Di dalam pikiran kita. Karena itu kalau Anda mau melawan ketakutan, perangilah sumber ketakutan itu, yaitu di dalam hati kita dengan iman dan dengan percaya.
Karena itu Franklin Delano Roosevelt sungguh-sungguh benar ketika berkata, “Satu-satunya yang mesti kita takuti itu adalah ketakutan itu sendiri.” Rasa takut. Dan kalau sumber ketakutan itu, hati dan pikiran kita, maka kita harus memerangi itu disana dengan iman dan percaya kita.
Saya masih ingat ketika saya melakukan perkunjungan di London. Di depan sebuah hotel ada satu inskripsi (tulisan) yang sangat indah yang menghubungkan antara iman dan ketakutan itu. Inskripsi itu berbunyi : “Ketakutan mengetuk pintu. Iman menjawab, tetapi tidak ada apa pun di situ.” Artinya ketika iman itu menjawab ketukan pintu dari ketakutan itu, ketakutan lari.
Pembaca terkasih, baiklah kita ingat benar-benar. Bahwa iman itu tidak pernah merupakan polis asuransi yang menjamin bahwa kita tidak akan lagi merasakan kesakitan, persoalan, kematian. Iman yang sungguh, Sidang Pembaca, tidak membebaskan kita dari semua itu. Dia hanya memberi kita keteguhan hati untuk bertahan, untuk menghadapi ketika ia datang.*

Tulisan Pdt Dr Eka Darmaputera, dalam BAHANA No. 12/TH.III, Mei 1993, p.48-9.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s