nasabah emosional

KAJIAN TENTANG PERLUNYA NASABAH EMOSIONAL DI CUM

Konsep syariah menekankan pelanggan emosional, yaitu berkenaan dengan hukum syariah islam. Misalnya penggunaan istilah “riba” yang mungkin bagi sebagian besar masyarakat islam adalah dosa dan tidak halal. Dengan konotasi seperti inilah yangg dicari oleh lembaga keuangan atau bank syariah terhadap nasabahnya. Jika bank syariah pertama di indonesia pada awal 90-an adalah bank Muamalat; barulah menyusul kemudian bank-bank syariah konvensional lain termasuk bank syariah Mandiri.

Bank ini dilegalisasi sama dengan bank konvensional lainnya; termasuk dalam sistem bunga suku bunga di BI. Istilah mereka untuk menarik nasabah adalah dengan menjanjikan sistem laba dan bagi hasil yang lebih tinggi dari bank konvensional. Sistem ini tidak terlepas dari simpanan pihak ketiga yang pasti dalam jumlah besar.

Ada 3 kunci kesuksesan operasional bank syariah : [1] Kajian ilmiah tentang riba dan alternatif riba dengan menggunakan teori moneter modern. Dikatakan, dipersoalkannya tanpa iman dan doktrin keagamaan — tapi mungkin karena mereka sejak semula telah mngatakan bahwa nasabah mereka adalah nasabah emosional; untuk menggambarkan ikatan semangat agama. [2] Hasil kajian itu diterbitkan dalam jurnal-jurnal dan kemudian dipublikasi yang dikemas dan ditawarkan dalam produk perbankan kepada masyarakat pasar bebas. Salah satu keuntungan lainnya adalah [3] Legalisasi; dengan demokratisasi di parlemen. Ia digambarkansebagai voluntary law sebabnya meskipun sudah menjadi hukum positif namun realisasinya tetap bersifat sukarela.

Demikianlah sekelumit pandangan M Dawam Rahardjo, “Kemajuan Bank Syariah di Indonesia”, dalam Tempo, 21 Okt 2007, p. 95

Ini dapat menjadi contoh bagi pendirian koperasi, atau lembaga keuangan masyarakat (LKM) atau Micro Finance Institutions (MFIs); terutama dalam lembaga ikatan pemersatu yaitu gereja. Ikatan emosional sebagai sesama, misalnya sebagai sesama warga batak dapat dijadikan sebagai modal besar untuk memperluas nasabah terutama dalam gereja-gereja batak di Sumatera Utara. Ikatan emosional yg dimaksud adalah termasuk mengkaji kekuatan simpul atau ikatan-ikatan dalam masyarakat terutama “fanatisme” positif bagi warga gereja batak.

Kajian ilmiah dan penyempurnaan serta transparansi keuangan/ moneter modern dapat dijadikan modal besar dalam pertumbuhan CUM (Credit Union Modifikasi) di gereja. BK3D (Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah); a regional/local level apex body of credit unions. Kredit yang diberikan CUM dengan demikian haruslah melayani usaha kecil menengah mikro- micro small medium enterprises (MSME). Ini utk menyeimbangkan perkreditan yang diberikan oleh bank-bank konvensional lainnya. Sektor riel belum mendapat perhatian besar dari bank, bahkan kesannya dianaktirikan dalam sistem kredit perbankan.

Demikianlah pentingnya kesadaran bersama tentang hal ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s