Apa Yang Tersisa Dari Pelatihan CUM di Sukamakmur?

Saat ini sedang berlangsung pelatihan calon Manager Micro Finance di Taman Jubileum 100 Tahun GBKP, Gelora Kasih Sukamakmur Deli Serdang. Pelatihan angkatan ke-10 ini diikuti 13 orang peserta dari gereja-gereja di SUMUT misalnya GKPI, GBKP dan HKBP. Ada lima peserta perempuan dari HKBP 4 diakones dan seorang pdt. Direncanakan setelah berjalan kl 2 bulan, pelatihan ini akan berakhir dengan pemberangkatan para Calon Manager MIcrofinance pada 6 Nopember 2008 yad. Kamis yang akan datang mereka akan mengadakan orientasi ke lapangan, dengan kunjungan ke CUM GKPS di Sariibudolok, CUM Maduma HKBP Distrik V SUm TimUR dan CUM Sejahtera Distrik II Silindung. Hingga kini pelatihan tetap berlangsung difasilitasi oleh BPR Pijer POdi Kekelengan dengan asuhan Bapak Dr Mangara Pintor Ambarita.

Dasar yang teguh sebagaimana selalu dikatakan Bapak Dr Ambarita adalah Yesus Kristus sebagai inkarnasi dari Allah yang datang ke dunia ini. Dan kita disuruh menjadi peserta ambil bagian dalam pelayanan itu, melalui Credit Union Modifikasi (CUM; baca cum, bukan c u m, bukan pula kum apalagi kkm) satu bentuk perpanjangan tangan diakoni gereja. Mengapa CUM ? Setelah Badan Perkreditan Rakyat yang dikelola lembaga gerejawi sangat sulit didapat perizinannya serta regulasi perbankan BI maka koperasi dengan dasar pelaynan gereja menjadi satu alternatif. ini yang dilihat Dr Ambarita dengan menjemaatkan (bukan mensosialisasikan) ini dengan mengadakan pelatihan calon Manager Micro Finance. Beliau mengajarkan dasar-dasar akuntansi, perbankan dan sistem informasi debitur, memperkenalkan ekonomi mikro & makro dan informasi kritis lain terhadap pelayanan gereja; dan yang terakhir ini mungkin sangat berguna bagi para pelayan yang mengikuti pelatihan itu.

Namun apa yang sebenarnya sangat dibutuhkan dalam pengejawantahan CUM di lapangan? Selain dasar-dasar yang diberikan dalam akuntansi dan ek makro & mikro yang paling perlu adalah sang Manager MIcro Finance (sebaiknya disingat MMF) melihat peluang pengembangan ekonomi kerakyatan yang tidak terlepas dari gereja. Jadi MMF memang menjadi manager dan pelayan yang visioner dalam memperhitungkan peluang pasar dalam usaha mengembangkan CUM yang terukur dan benar-benar akuntable, transaparan dan paling perlu takut akan TUhan. Jadi selain ilmu terapan ini, yang perlu juga adalah spiritualitas menager CUM dan stafnya, ini tidak hanya gerakan ekonomi rakyat tapi juga peningkatan spiritualitas anggota CUM dan warga gereja.

Kini ada banyak lagi sistem ekonomi dan lembaga keuangan di negeri ini. Ada CU, koperasi,BMT, bank konvensional (dan juga rentenir, lintah darat, tukang pokkik, dlsb.) dengan menawarkan segala kecemerlangan, keindahan meski menjadi menara gading tak tersentuh anggotanya. Semuanya dengan sistem keuangan, sistem informasi debitur mutakhir yang terus dikebambangkan, juga sistem jemput bola semuanya untuk menjual lembaga keuangan itu. semuanya berlomba-lomba untuk menarik nasabah, anggota dengan menerapkan sistem akuntansi, audit dan kemudahan2 lain. CUM sebagai bagian dari itu harus terus memperbaharui dan memperkembangkan sistem pembukuan dan pelayanannya hingga mampu bersaing dengan lembaga keuangan lain. Satu yang membedakan CUM dari lembaga itu. Takut akan Tuhan. itu diterjemahkan dengan benar-benar meneladani Yesus yang datang guna memberitakan kabar baik,membawa kelepasan, penghapusan ketidakadilan dan mewartakan Tahun Rahmat Tuhan : Pembebasan bagi semua orang (bnd Luk. 4,18-9). Jadi jika ini pun tidak ditemui dalam CUM, apalagi yang akan tersisa hasil pelatihan Sukamakmur??
Menurut Anda..?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s