Ai ia disi pangiburuon dohot hatongkaron, disi ma hagaoron dohot sandok ulaon hajahaton; Jakobus 3:16
September 29, 2008
Iri hati dan kecemburuan memang sudah mewabah dalam kehidupan manusia. Ini juga merupakan sikap mementingkan diri sendiri. sejak semula, perasaan itu tertanam karena hati yang tidak ingin disaingi, merasa tersaingi dan akhirnya menimbulkan kecemburuan. Karena terbakar perasaan cemburu dan iri, kain – berhati panas dan muram mukanya – tega-teganya membunuh adik kandungnya sendiri. karena iri itu pula Daud mengambil inisiatif memerintahkan Uria ada dibarisan depan umpan pelor untuk mengambil istrinya. dan itu pula yang memenuhi hati Absalom selama dua tahun, karena menginginkan takhta putera mahkota tega menghabisi Abnon sang kakak. Banyak lagi contoh dalam kitab suci menggambarkan, betapa jika perasaan iri dan cemburu ada, ia menghasilkan dendam, ulah jahat sampai yang diperhitungkan masak-masak demi membalaskan dendam itu.
Jadi iri hati dan cemburu sifatnya mementingkan diri sendiri yang membakar, dan menghanguskan hati siapa saja yang dirasukinya. Cemburu buta menjadikan hati buta, dan nalar lumpuh terjadilah adu mulut hingga adu jotos. di tingkat yang lebih tinggi ada polemik, pokrol bambu yang mengguncang dan mencekam bagi banyak orang.
Iri hati dan kecemburuan sebaiknya dipadamkan, supaya jangan ada dendam diantara kita dan akibat-akibat buruk yang lain. Pdt WTP Simarmata mengatakan, Memaafkan mungkin tidak akan memperbaiki masa lalu, tapi memaafkan bisa memperbaiki masa depan. Benar, memaafkan bisa mengikis perasaan dendam dan iri hati serta kecemburuan serta menciptakan masa depan yang lebih baik. Setuju.!?
Entry Filed under: almanak hkbp 2008, rohaniman. .
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
Andar Pasaribu | September 30, 2008 at 11:53 pm
Terimakasih pak Pendeta atas renungannya. Luar biasa untaian kata dari Bp Pdt WTP Simarmata. Betul, memaafkan mungkin tidak akan memperbaiki masa lalu, tetapi dengan memaafkan kita punya masa depan yang cerah. Plus, biarlah motivasi kita memaafkan adalah karena Kristus yang telah memaafkan kita bukan karena kita pantas diampuni, tetapi karena Dia sangat mencintai kita. Salam dari Jerman.
horas ma abanganda. semoga kita sama-sama dikuatkan dengan semangat memaafkan itu. Salam dari Jorlang Huluan, semoga sukses dalam studinya.