Month: January 2008

BERSERAH DALAM DOA

Sarupa do dalan pasahathon tangiang di halak Kristen i songon hita na martamue tu jabu di donganta. Jadi dibahen parjabu i ma tes di hita huhut manghatahatai.
Sasintongna dung dipasahat i, ba gabe hak-nta na ma tes i. Ndang adong be urusan manang wewenang ni parjabu taringot tu tes i, ai nunga dipasahat tu hita. Boi do i tainum otikotik, manang sahali manginum. Manang na gabe tabolonghon i, manang na gabe tu dongan nilehon, hak-nta do disi.

Suang songon i ma — pandok ni si parjamita i, — ba dung tapasahat tangiang i tu Tuhanta ndang adong be sandok urusanta disi. Tuhan i na ma na mamboto, na pasauthon manang ndang diangka pangidoanta i.
Moral cerita : Begitu banyak orang yang tidak berserah dalam doanya. Sebabnya, ia sudah menyerahkan permohonannya kepada Tuhan melalui doa, namun tidak banyak yang tinggal dalam penyerahan. Lebih banyak yang kuatir, ganggu, dan tidak berserah diri pada Tuhan.

(Dibaritahon Amanta Pdt Colan Wastian Zyn Pakpahan, MTh. di Sermon Distrik V Sum Timur, 30 Januari 2008).

Yesus dan Pembebasan Tahun Yobel

tulisan sederhana untuk mengkaji pelayanan Yesus yang holistik sebagai pewujudan tahun YOBEL dalam rangka membebaskan. Berorientasi pada pelayanan gereja masa kini melanjutkan tugas Raja Gereja itu sebagaimana dalam Luk 4:18-9, dan dikuti sebagian besar dari kitab nubuatan Yesaya. menurut para ahli banyak berakar pada tradisi Deuteronomist (Dtr.) sebagai salah satu sumber tradisi YOBEL disamping kitab Imamat fasal 25.

untuk dr Batara Sihombing, di STT Abdi Sabda Jl Binjai Km 10,8 yang minggu-minggu ini sedang berada di Australia.

yesus_pembebasan_yobel.pdf

Syukuran Tahun Baru Keluarga Besar STT HKBP

Pematangsiantar Sabtu, 26 Januari 2008 di Rumah Kediaman Pdt Dr Darwin Lumbantobing, Ketua STT HKBP Pematangsiantar. Keluarga besar STT image07.jpgHKBP Pematangsiantar mengadakan syukuran Tahun Baru 2008 pada hari Sabtu 26 Januari 2008. acara ini dihadiri oleh para dosen, mahasiswa, para staf dan karwayan STT HKBP Pematangsiantar dan juga keluarga Lumbantobing dan Siahaan sebagai hulahula, para undangan termasuk parsahutaon dari FKIP HKBP Nomennsen dan juga para pelayan di HKBP Siantar Kota. Kebaktian syukuran sendiri dilayani oleh Pdt Martunas P Manullang, MTh. Doa syafaat dipimpin oleh Bapak Pdt Colan W Z Pakpahan,MTh yang saat ini menjabat sebagai Pembantu Ketua I (Puket I) STT HKBP Pematangsiantar. Dalam kotbahnya Manullang mengutip nas dari Efesus 5, 15-17. Pekerjaan adalah karunia Tuhan, dan pemberian itu hendaknya menjadi sesuatu yang harus dihargai oleh semua orang percaya dalam segala pekerjaannya. Setiap waktu adalah kesempatan dan peluang, tergantung bagaimana kita sebagai oerng Kristen dapat mensyukuri dan menghargaunya dalam kehidupan kita. Selesai acara kebaktian maka dalam kesempatan itu beberapa orang yang memberikan kata sambutan dan ucapan terimakasih. Dari Pdt Dr Darwin Lumbantobing dalam kapasitas beliau sebagai Ketua STT HKBP Pematangsiantar. Ada beberapa agenda yang akan dilaksanakan pada Tahun 2008 : Bulan April akan diadakan Kebaktian Raya dalam rangka memperingati Dies Natalis 30 Tahun STT HKBP Pematangsiantar. Juga pada bulan yang sama tanggk 25 akan diadakan wisuda tunggal Pdt MSE Simorangkir yang diwisuda dari Silliman Univ Filipina dengan bimbingan Pdt Dr Darwin Lumbantobing. Pada tahun ini akan ada tamu dosen dari Jerman yang datang bersama Mahasiswa dari dan akan tinggal di rumah-rumah dosen. Pada waktu yang bersamaan akan ada Regina dan Thomas yang akan tinggal selama 3 tahun di STT HKBP PEmatangsiantar sebagai tenaga pengajar. St PH Simaremare Dosen FKIP HKBP Nommensen memberikan kata sambutan dari parsahutaon. Pdt MSM Panjaitan yang akan pindah melalyani sebagai pendeta Ressort di Jkt disebutkan sebagai dosen yang paling lama di STT HKBP memberikan kata sambutan tersebut. St Siregar dari Pegawai dan Staff STT HKBP Pematangsiantar Pdt Luhut Simbolon sebagai Pendeta Ressort di Immanuel Tomuan sekaligus yang membawahi HKBP Siantar Kota tempat STT HKBP Pematangsiantar. Ny Pdt Dr ROM Tampubolon mewakili para ibu dosen dan staf di STT HKBP Pematangsiantar. Hualahula Siahaan dan Juga keluarga besar Lumbantobing juga turut menyampaikan kata ucapan selamat dan terimakasih karena mereka diberikan kesempatan bersama dengan STT HKBP Pematangsianatar sebagai hasuhuton dalam acar syukuran tersebut.

Natal & Tahun Baru HKBP Distrik V Sumatera Timur

Perayaan Natal dan Syukuran Tahun Baru Pelayan HKBP Distrik V Sum Timur
Rabu, 23 Januari 2008, Sopo Godang NHKBP Pematangsiantar

Catatan Otokritik Peserta Syukur Tahun Baru 2008
Natal dan Syukuran Tahun Baru para pelayan HKBP Distrik V Sum Timur berlangsung di Gedung Sopo Godang NHKBP Pematangsiantar Jl Gereja Pematangsiantar. Acara ini dihadiri oleh pimpinan HKBP KaDept. Marturia HKBP Pdr MH Sihite, STh, Praesses HKBP Distrik V Sum Timur Pdt Dr P Simanjuntak, Para Pelayan HKBP di Distrik V Sum Timur dan ratusan Undangan dari Pemerintahan, Kepolisian Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun.
Acara ibadah diawali dengan puji-pujian dari Punguan Ina Koinonia HKBP Pematangsiantar, yang kemudian dalam acara ibadah mempersembahkan tiga koor. Acara ibadah sendiri dipandu liturgist Pdt Sondang Napitupulu, dan renungan disampaikan oleh KaDept Marturia HKBP Pdt MH Sihite.
Dalam acara kebaktian yang adalah perayaan Natal dan Tahun Baru ada beberapa orang yang mempersembahkan refleksi mewakili tohonannya. St PH Simaremare mewakili para sintua (penatua) menggambarkan bahwa ciptaan Allah sempurna adanya dan tugas-tugas gerejawi pada masa kini oleh gereja termasuk para pelayannya adalah melestarikan keutuhan ciptaan itu. Misalnya dengan pemberdayaan pargodungan gereja, pemanfaatan lingkungan hidup dan ajakan untuk melakukan tugas marturia.
Dari kaum Diakones, diwakili oleh Diak D Br Simanjuntak. Dia bilang secara klise bahwa perbuatan lebih keras suaranya daripada kotbah-kotbah untuk menggambarkan perkataan dalam kesaksian kita. Demikian juga kurang lebih yang disampaikan oleh perwakilan para guru huria HKBP Gr P Sarumpaet. Ajakan natal-nya agar menghargai dan menerima natal memang – baiklah bagi saya!! – memang klise. Lagi pula natal sudah kita lakukan sebulan yang lalu, refleksi itu tidak reflektif. Hanya saja kesannya menggurui (mungkin karena penyampainya adalah guru huria pula). Satu lagi kesalahan dalam sebuah show ternyata bukan pada nyanyiannya tapi lebih pada siapa penyanyinya, bukan !? Ini terlihat saat Pdt Roulina Br Siagian menyampaikan refleksi mewakili kalangan Pendeta HKBP. Katanya, mengutip Jujun Suriasumantri dalam Filsafat Ilmu-nya bahwa sehubungan dengan tugas marturia ada orang yang tidur karena memang terlelap dan ini perlu dibangunkan. Tugas itu adalah menyadarkan orang yang tidak tahu di tidaktahunya itu dan kemudian menjadikannya sebagai orang yang berjaga terus dan sedia selalu. Ada pula orang yang memang tidak sadar bahwa dia tidak tahu di ketidaktahuannya, ini “anak-anak”, dengan demikian tugas marturia adalah ajarilah dia. Dan kepada orang yang tahu dan sadar, bangun, inilah orang bijaksana. Ikutlah dia !?
Satu hal – kalau bukan satu-satunya – yang cukup menghibur sepanjang ibadah yang panjang dan membosankan itu adalah ada setidaknya empat nyanyian Buku Ende yang dinyanyikan dengan gaya kontemporer dan semua orang menghentakkan kaki, tangan dan kepalanya mengikuti irama nyanyian itu.
Dalam kotbahnya, Pdt Sihite mengatakan dari tema Tahun Marturia 2008, yaitu Yoh 15,16 seolah-olah ada sesuatu yang Tuhan ingin perbaiki dan sembuhkan dari diri kita. Bukan kamu yang memilih Aku,.. Bukan kamu yang memikirkan Aku, .. Bukan kamu yang memperhatikan dan menghidupi Aku, tetapi …. Dia-lah yang memilih kita, yang membantu kita, yang menguatkan kita supaya pergi, berbuat serta berbuah sebagai pelayannya.
Jika manusia selalu berusaha memilih dari antaranya orang-orang yang paling besar, paling baik, paling besar, dlsb (marhasurungan); dan untuk terpilih orang bersedia melakukan apa saja, supaya dikenal, dikagumi dan akhirnya memilihnya. Itu wajar, dan itu baik bagi manusia. Tetapi Allah memilih kita, Anda dan saya, yang tidak berguna, bukan yang paling baik, untuk menjadi pelayan-Nya dan menghasilkan buah yang berharga. Angka na so hasea do dipillit Ibana, asa marparbuehon angka na arga. Tidak cukup begitu saja, Tuhan juga memperlengkapi kita agar kita mampu dengan tidak mengandalkan fikiran, daya dan kekayaan bekerja di ladang Tuhan. Ia memberi kuasa melalui Roh Kudus kepada pelayan-Nya supaya mereka dimampukan berkarya untuk-Nya. Hal ini pula menjadi jaminan bahwa dengan mengandalkan Tuhan dalam pekerjaan kita, Ia menjadi sumber hidup (bona ni hangoluan; istilah mana berulang-ulang disebutkan pengkotbah ini).
Satu hal yang tidak ditempatnya, adalah saat ia berbicara tentang pelean II atau na marboho. Sdr. tahu kan,? Jika saja dia tidak memulainya dengan santabi, atau maaf untuk membicarakan pelean/ persembahan ke kantor pusat dari huria-huria, saya tidak akan terganggu. Apa beratnya bicara tentang uang di kotbah, tokh saya setia kepada firman Allah. Dengan “maaf” atau “santabi” atau apa saja, itu menggambarkan ada udang dibalik bakwan haha… pantas saja warga gereja selalu menggerutu jika pengkotbah mulai berbicara tentang uang, persembahan, ekonomi, perkoperasian, dlsb. Atau seperti anekdot, UUD : Ujung-ujungnya (pasti) duit. Bukankah tidak lebih bagus untuk berterus terang tentang uang namun setia pada firman, daripada sembunyi-semmbunyi dan dengan lihai mengatasnamakan firman untuk sekadar meminta bantuan atau berdagang di etalase gereja. Huh.. Jika tuntutan firman memang tentang uang, setialah, begitulah – setidaknya menurut saya – kita setia dalam pemberitaan firman.
Acara ditutup dengan makan bersama, setelah diselingi dengan kata-kata sambutan. Dari panitia Pdt Mangantar Tambunan, yang secara simbolis – biar juga hanya kata-kata – menyerahkan bantuan ala kadar kepada pendeta na suda gogo (pensiun) di lingkungan distrik ini. Dari kepolisian Polres Simalungun dan Polresta Pematangsiantar, diwakili oleh Bapak Tampubolon. Beliau mengingatkan kita perlunya menjaga kerukunan dan ketertiban dalam masyarakat istimewa dalam 2008 kita memiliki dua agenda besar di provinsi ini. Yang pertama, PilGubsu; dan bulan september nanti ada Sinode Godang HKBP. Harapannya semoga kedua momen bersejarah itu dapat berjalan dengan tertib sesuai dengan harapan kita semua. Untunglah Ojak Naibaho sudah berjanji bahwa dia akan berbicara 1½ menit, dan sambutannya mewakili DPRD Kab dan Kota Pematangsiantar berakhir bahkan sebelum tenggat waktu itu. Juga ada perwakilan dari Pemerintahan Pemko Pematangsiantar dan juga Kab Simalungun yang memakai kesempatan itu memperkenalkan Walikota yang katanya ruas HKBP Pematangsiantar dan salah satu putra terbaik pula di daerah ini, hanya karena ingin menyodorkan dirinya menjadi balon Gubsu pada pilkada nanti. Pdt Dr Jamilin Sirait, berbicara dalam kapasitasnya sebagai KRP HKBP s/d. 2009. Tiga isu yang (di)besar-besarkannya adalah 1. Kemiskinan (dan kemelaratan) 2. Isu Global Warming (mungkin ini yang betul-betul besar) dan 3. Disentegrasi bangsa. Dan yang paling menarik dari beliau adalah masalah kedelai, karena itu yang paling mendarat di ranah pemikiran peserta Syukuran Tahun Baru itu. Agak terbata-bata Dr Ulrich Beyer mewakili Gereja/ Lembaga Gereja tetangga juga ikut mengucapkan selamat. Katanya, sebenarnya dia agak terkejut menghadiri perayaan hari itu, sebabnya natal sudah menjadi produk yang dikeluarkan kl. sebulan yang lalu, tapi disini orang masih merayakan natal, padahal sebentar lagi orang akan mengadapi pesta Paskah. Haha.. Namun secara teologis memang, baginya, Boan sadanai save one more bukan berarti bahwa tindakan penyelamatan itu adalah tindakan kita. Sebagaimana pun besarnya jasa, usaha dan upaya kita membawa jiwa-jiwa Yesus Kristus-lah yang menyelamatkannya; jadi bukan karena usaha dan pekerjaan Anda dan saya, katanya. Dikisahkannya, pernah satu waktu dia singgah di sebuah lepau makan seorang diri. Sedih katanya, sendirian tanpa istrinya. Saat dia sendirian, datanglah juga seorang ibu sendirian juga. Dan sambil menunggu makanannya dia memperhatikan orang-orang dan meja sekelilingnya. Hingga makanannya datang, Beyer memperhatikannya. Dan ibu itu berdoa, ia berdoa di kedai itu. Beyer sendiri menurut pengakuannya tidak pernah melihat orang berdoa sebelum makan di lepau itu. Baru kali ini dia melihat ada orang yang berdoa di kedai saat akan makan. Di negerinya sendiri, ia akui tidak banyak orang berdoa sebelum atau sesudah makan. Luar biasa, sehingga dia berdiri dan menghampiri si ibu untuk menyalamnya dan kelihatannya si ibu berseri-seri dengan sedikit pujiannya. Entah apa moral cerita itu, mungkin hanya makan ditempat umum, di bus, di jalanan, tapi mungkin yang paling penting tindakan nyata sangat diperlukan untuk menjadi saksi Kristus. Jadi bukan hanya kata-kata belaka.
Akhirnya tibalah makan dengan hiburan nyanyian dari Pdt Juares Pardede, ternyata bisa juga dia jadi artis dadakan selain berkotbah ya. Yah, lumayanlah, dari pada tidak ada pengisi kegiatan. Tapi ternyata ada dua ibu Boru Pasaribu, yaitu para Punguan Ina HKBP, Ny Sirait dan Ny Panggabean. Duo mereka pantas diacungi jempol, mungkin karena penyanyi ya waktu masih muda. Kini saya kenal mereka dua-duanya dirigent pada Koor Ina HKBP Pematangsiantar dan HKBP Dame.
Karena tema pertemuan itu adalah launching logo Tahun Marturia yang lebih mirip banteng PDIP atau solu/ sampan, yang diatasnya ada dua orang, yang satu kulit putih dan satunya lagi negro. Mungkin untuk menggambarkan orang yang menolong dan yang ditolong dalam lingkup tulisan TAHUN MARTURIA HKBP 2008. Mungkin tugas ini dikerjakan hanya dalam lingkup dan cakrawala HKBP. Tapi mungkin salah karena ternyata gambarannya berbeda, dan mungkin ada banyak komentar orang untuk membawa pulang satu lagi bungkusan nasi kotak dari RM. Garuda itu. Boan Sada nai atau Boan Sadanai. Yah, Boan Sada na i. Selamat Tahun Baru 2008.

image08.jpg

Kolportase Vs Lumenium

Kolportase itu kan singkatan dari Kolaborasi Antara Kompor & Tas. Dulunya etalase penjualan buku di Jl Gereja ini bernama Hermon. Dan tanyalah orang-orang tua, bahwa bangunan yang milik Departemen Sending HKBP itu dulunya memang bernama Hermon, mirip bagian penjualan buku-buku Pelayanan PI HKBP dan juga sekaligus tempat pertemuan yang berhubungan dengan kegiatan PI tersebut.lumenium1.jpg
Namun kini di Jl Sudirman ada bangunan baru penjualan buku-buku rohani milik gereja Katolik. Kalau menurut saya sih lumenium itu lumayan-lah Oom!! Disitu ada berbagai buku dari segala disiplin ilmu dan memang rupanya bertujuan bukan hanya menjual buku-buku keluaran Kanisius. Lihat saja kolportase, apa yang ada disitu. Anda mencari FD Wellem, Kamus Sejarah Gereja, carilah itu di Kolportase. Cari tulisan Risnawaty Sinulingga, Kitab Amsal 1-9, pasti di lumenium ada. Cari ensiklopedi, a-z juga ada. Atau yang doyan buku-buku keluaran Gramedia dan terbitan yang ada gambaar kerbaunya Kompas, cari saja di lumenium. Jangan cari di kolportase. Sepertinya yang ada di kolportase itu SP Immanuel, itu pun edisi 2 bulan lalu (memang kelihatannya pencetakan SP Imm ini lebih sering terlambat—lagi pula Anda kan tahu sendiri isinya, kotbah evanggelium dan epistel yang ditulis generalisasi oleh orang yang itu-itu juga— Uh!!). Atau kalau ingin sekadar mencari Marturia yang sedang naik daun dan penulisnya menjilat ludahnya sendiri untuk menulis kembali kotbah-kotbah – tarhilala ma!! – carilah di kolportase. Tapi jangan cari yang agak sedikit ilmiah-lah. Disitu sepertinya cukup yang rohaniah; acara parmingguon dan pangompoion.
Satu lagi yang perlu, setiap toko buku mestinya kan dilengkapi dengan katalog. Dan minimal-lah catalog sederhana, yang ada tertulis dan setidaknya dikuasai oleh penjaganya. Kan ada tahu sendiri berapa ribu judul buku yang sudah pernah terbit, dan tidak akan mungkin diterbitkan lagi dan pasti tidak ada. Jangan, kita Tanya judul, jawabnya habis. Belum masuk, atau sedang dipesan. Kapan datangnya kita tidak tahu. Jangan-jangan lumenium lebih protestan kini – dalam hal literaturnya—di etalase bukunya.
Lihatlah, sayan sendiri harus berbelanja edisi Seri Selamat-nya Andar Ismail di lumenium; karena saya sudah pergi ke kolportase berulang-ulang dan tidak pernah ada, misalnya seri Selamat terakhir. Jangan-jangan nanti kita, orang HKBP harus belanja Impola Jamita dan Almanak HKBP di lumeniumnya RK Katolik pula.